KA Parahyangan : 50 Tahun Wara-Wiri Koridor Jakarta-Bandung

Saat ini, sudah banyak moda transportasi umum berlalu-lalang pulang-pergi menyambungi 2 kota utama di wilayah barat Pulau Jawa: Jakarta, ibukota negara Republik Indonesia; dan Bandung, ibukota provinsi Jawa Barat. Bus AKAP dan microbus shuttle mulai menjamur semenjak diresmikannya Jalan Tol Cipularang pada tahun 2005, menghubungkan Tol Jakarta-Cikampek dengan Tol Padaleunyi sehingga kendaraan roda karet bisa menempuh jarak 100km lebih antara Jakarta dan Bandung dengan waktu selama 2 jam tanpa macet. Lalu ada juga pesawat terbang perintis Susi Air yang melayani dari bandara Halim Perdana Kusuma ke Husein Sastranegara, yang memiliki waktu tempuh selama 40 menit walau tidak setiap hari ada jadwalnya. Dan sekarang menjadi semakin cepat dengan dioperasikannya Kereta Cepat KCIC “Whoosh” pada tahun 2023, dengan waktu tempuh antar dua kota tersebut hanya 45 menit.

Walau begitu, ada satu armada yang masih menjadi andalan warga Jakarta, Bandung dan kota-kota yang dilaluinya meskipun telah digempur oleh banyaknya pilihan transportasi tersebut. Kereta api konvensional sudah melayani lintas tersebut bahkan sejak berabad lalu, dan diunggulkan karena lintasannya yang langsung masuk ke pusat kota. Salah satunya adalah Kereta Api Parahyangan, yang tetap menjadi unggulan dari dulu, sekarang dan nanti.

Sejarah pra-Parahyangan

Sebelum adanya KA Parahyangan, Jakarta dan Bandung telah terhubung dengan kereta api sejak jaman kolonialisme Belanda di tanah Indonesia. Dimulai dengan terhubungnya Batavia (Jakarta) dengan Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1873, pihak NIS (Nederlansch Indische Spoorweg Maatschapij) meneruskan pembangunan jalur kereta tersebut hingga akhirnya, pada tahun 1884, kereta api dari Batavia telah beroperasi sampai Bandung lewat Buitenzorg, Sukabumi dan Cianjur. Akan tetapi, karena dirasa kurang memadai dan pihak pemerintah Hindia Belanda ingin mengurangi beban upeti ke pihak NIS, pihak SS (Staatsspoorwegen) memutuskan untuk membangun jalur kereta api baru di petak Karawang-Padalarang segera setelah mengakuisisi jalur kereta Batavia-Karawang dari BOS (Bataviasche Ooster Spoorweg Maatschapij) pada tahun 1898, dan jalur tersebut selesai dibangun dan diresmikan pada tahun 1906.

Pada tahun 1934, SS mengoperasikan kereta api ekspres Vlugge Vier dengan rute Batavia-Bandung via Karawang-Padalarang. Kereta ini memiliki jadwal 8x perjalanan (4 dari Batavia, 4 dari Bandung) dengan waktu tempuh 2 jam 45 menit. Sempat berhenti operasi pada masa pendudukan Jepang (1942-1945) dan masa perjuangan kemerdekaan, kereta ini akhirnya beroperasi kembali oleh pihak DKA (Djawatan Kereta Api) pada tahun 1952. Kereta inilah yang menjadi cikal bakal Kereta Api Parahyangan.

Awal Mula dan Masa Kejayaan

Kereta Api Parahyangan mulai beroperasi perdana pada tanggal 31 Juli 1971 oleh pihak PNKA (Perusahaan Nasional Kereta Api) dengan rute Jakarta Kota-Bandung p.p., meneruskan sejarah Vlugge Vier dengan stamformasi 6 K2 (Kelas Bisnis) dan ditarik oleh lokomotif BB301. Pada saat itu, stasiun pemberhentiannya mencakup: Jakarta Kota (JAKK), Gambir (GMR), Jatinegara (JNG) dan Bandung Hall (BD). Karena kereta ini berjalan tanpa henti selepas Jatinegara hingga Bandung, kereta ini mampu menempuh jarak 175km dalam waktu 2 jam 30 menit, menjadikannya sebagai kereta unggulan dalam koridor lintas Jakarta-Bandung.

Pada tahun 1977, kereta ini mulai ditarik oleh lokomotif CC201, yang sejak saat itu selalu setia mengantar Parahyangan hingga munculnya lokomotif CC206. Pada tahun yang sama, kereta ini mulai membawa K1 (Kelas Eksekutif) walau hanya sebatas charteran, hingga akhirnya mulai dibawa secara reguler pada tahun 1984. Bahkan pada tahun 1986 hingga 1988, Parahyangan sempat menjadi rangkaian panjang dengan jumlah 13-14 kereta sembari ditarik oleh 2 lokomotif CC201.

Dekade tahun 1990-an menjadi masa jayanya Kereta Api Parahyangan. Dimulai dari ditasbihkannya KA Parahyangan dengan nomor KA 1 di GAPEKA 1993 setelah kereta tersebut diuji coba sehingga waktu tempuhnya bisa dicapai hanya dalam 2 jam 21 menit untuk kereta keberangkatan paling pagi dari Bandung sampai Jatinegara pada tahun 1992. Semenjak jalur kereta Jakarta Kota-Manggarai menjadi jalur layang penuh pada tahun 1993, mayoritas kereta yang awalnya berangkat dari Jakarta Kota melalui Gambir dipangkas menjadi berangkat dari Gambir. Tidak terkecuali KA Parahyangan.

Kereta ini sempat digadang-gadang sebagai bagian dari proyek kereta kelas tinggi dengan kode JB250 (Jakarta-Bandung 2 jam untuk hadiah dirgahayu 50 tahun Indonesia), tapi akhirnya pada tahun 1995 menjadi kereta baru pesaing Parahyangan: Kereta Api Argo Gede. Walau begitu, Parahyangan tetap menjadi unggulan tersendiri di kelasnya dalam koridor rute yang sama. Pada GAPEKA 1996 dan GAPEKA 1998, Parahyangan menjadi kereta api dengan jumlah perjalanan terbanyak untuk kereta jarak jauh: 40x perjalanan, termasuk fakultatif (dijalankan pada waktu tertentu). Pada saat itu, stamformasi rangkaiannya adalah 2 K1-M1-4 K2-BP dan ditarik oleh CC201 atau CC203.

Masa Kelam

Pamor KA Parahyangan, bersama dengan KA Argo Gede, sebagai primadona Jakarta-Bandung mulai meredup pada tahun 2005, setelah diresmikannya Jalan Tol Cipularang. Sebelum ada jalan tol tersebut, kendaraan roda karet menempuh waktu 3-4 jam tanpa macet dari Jakarta ke Bandung (1 jam Tol Jakarta-Cikampek, setelahnya 2 jam jalan raya Cikampek-Sadang-Padalarang atau 3 jam jalan raya Sadang-Subang-Lembang). Dengan munculnya jalan tol tersebut, kendaraan roda karet dapat menempuh dengan waktu 2 jam, hampir sama dengan kereta api (bahkan bisa lebih cepat).

Masa senjakala kejayaannya dimulai dengan pemangkasan jadwal KA Parahyangan hingga hanya menjadi 12x perjalanan dan pemendekan rangkaian menjadi 2 K1-MP2-3 K2. Walau sempat dapat boost promosi dengan tarif promo serta penambahan dua stasiun pemberhentian di Bekasi dan Cimahi, pada akhirnya, per 27 April 2010, KA Parahyangan dan KA Argo Gede digabungkan sehingga menjadi KA Argo Parahyangan, kereta api kelas argo pertama yang stamformasi rangkaiannya bercampur dengan kelas lain alih-alih full K1.

Ketika Berstatus Argo

Semasa menjadi KA Argo Parahyangan, stasiun pemberhentian kereta ini hanya di Gambir (GMR) dan Bandung (BD), dengan Jatinegara (JNG) hanya untuk kereta dari arah Bandung dan tidak semua kereta berhenti di Bekasi (BKS) dan Cimahi (CMI). Pada periode waktu 2010-2017, kereta ini memakai stamformasi rangkaian 4 K1-MP1- 2 K2 atau 3 K1-MP1-3 K2, ada juga yang full 6 K1 dengan kereta MP1 di tengahnya.

Pada tahun 2017, jumlah perjalanan kereta api Argo Parahyangan mulai bertambah banyak setelah terjadi kenaikan okupansi penumpang, karena kereta api kembali menjadi alternatif terbaik ketika Jalan Tol Jakarta-Cikampek mengalami kemacetan di banyak titik imbas dari banyaknya konstruksi yang dibangun secara paralel. Di tahun yang sama, kereta K2 diganti dengan kelas K3 Premium. Pada tahun 2019, semua armada Argo Parahyangan telah memakai rangkaian kereta dengan bodi baja nirkarat (stainless steel). Di tahun yang sama, beberapa perjalanan kereta tersebut diperpanjang sampai stasiun Kiaracondong (KAC). Dan, pada tahun 2023, beberapa rangkaian Argo Parahyangan mulai membawa kereta Panoramic, kereta kelas spesial dengan kaca jendela sangat lebar untuk menyuguhkan pemandangan sepanjang perjalanan.

Pada GAPEKA 2023, Kereta Api Argo Parahyangan memiliki 20 perjalanan full reguler setiap hari. Sayangnya, berdasarkan GAPEKA 2023, stasiun Kiaracondong tidak lagi menjadi stasiun terminus untuk beberapa perjalanannya. Praktis rutenya kembali menjadi Gambir-Bandung p.p. dengan stasiun pemberhentian sepanjang perjalanan tersebut, yang dimana tidak semua perjalanan berhenti di stasiun tersebut, antara lain Jatinegara, Bekasi, Cikarang dan Cimahi. Pada awal tahun 2024, dengan diresmikannya kereta api Pangandaran (Gambir-Banjar p.p.) dan Papandayan (Gambir-Garut, p.p.) serta Kereta Cepat KCIC “Whoosh”, jumlah perjalanan Argo Parahyangan kembali dikurangi karena beberapa rangkaiannya dipakai untuk kedua kereta api baru tersebut.

Dengan diberlakukannya GAPEKA 2025 pada 1 Februari 2025, kereta api Argo Parahyangan harus melepaskan status kelas Argo, sehingga keretanya kembali memakai nama lamanya: Parahyangan. Dengan nomor kereta 131-140, Kereta Api Parahyangan akan melayani rute Jakarta-Bandung dengan 10x perjalanan reguler (5 dari Jakarta dengan nomor genap, 5 dari Bandung dengan nomor ganjil) setiap hari, dibantu dengan tambahan 2x perjalanan dari Papandayan dan 2x perjalanan dari Pangandaran. Stasiun pemberhentian Parahyangan antara lain Gambir (GMR), Jatinegara (JNG), Bekasi (BKS), Purwakarta (PWK), Cimahi (CMI) dan Bandung (BD); KA 132 tidak berhenti di Jatinegara (JNG), KA 131 dan KA 136 berhenti di Karawang (KW), KA 135 dan KA 136 berhenti di Cikampek (CKP).

Penutup

Perjalanan sejarah kereta api Parahyangan terbilang cukup beragam. Dari meneruskan perjuangan Vlugge Vier di tahun 1971, mencapai masa kejayaan di tahun 1990-an dengan frekuensi perjalanan hingga 40x sehari, memasuki fase kelam dengan kehadiran Jalan Tol Cipularang di tahun 2005, peleburan dengan Argo Gede menjadi Argo Parahyangan di tahun 2010, kembali menjadi favorit mulai dari tahun 2017, turun lagi di tahun 2024 dengan kehadiran Kereta Cepat “Whoosh” serta berbagi layanan dengan Papandayan dan Pangandaran, hingga melepas status kelas argo di tahun 2025. Walau telah digempur oleh kereta cepat dan jasa bus AKAP-minibus shuttle, walau telah berbagi layanan dengan Papandayan dan Pangandaran, namun kereta api Parahyangan tetap setia melayani lintas Jakarta-Bandung selama 5 dekade terakhir, dan diharapkan tetap setia melayani di masa yang akan datang.

Sumber artikel:

Sumber gambar:

Komentar

Postingan Populer